Jakarta, 22 September 2026 – Perkembangan baru muncul dalam kasus hilangnya kapal Arupadhatu I yang membawa lima jurnalis dan tiga kru saat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Jenazah seorang pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) bernama Surakman. Kepastian identitas diperoleh setelah tim Disaster Victim Identification (DVI) melakukan pemeriksaan dan pencocokan DNA dengan keluarga korban. Jenazah sebelumnya ditemukan dalam kondisi sulit dikenali secara visual sehingga identifikasi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Temuan tersebut menjadi perkembangan penting sejak rombongan dilaporkan hilang kontak pada 7 September 2026.
Jenazah ditemukan di kawasan pesisir Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Pulau Enggano, Bengkulu Utara, pada 12 September 2026. Lokasi penemuan berada sekitar 345 kilometer dari Pulau Sebesi, Lampung, yang menjadi kawasan terakhir kapal diketahui berada sebelum hilang kontak. Setelah ditemukan, jenazah dievakuasi ke fasilitas kesehatan di Bengkulu untuk menjalani pemeriksaan. Tim kemudian mengumpulkan data antemortem dari keluarga seluruh orang yang berada dalam rombongan. Sampel DNA menjadi salah satu unsur utama untuk memastikan identitas korban.
Hasil pemeriksaan menunjukkan DNA jenazah memiliki kecocokan dengan anak kandung Surakman. Proses identifikasi membutuhkan waktu sekitar 10 hari karena petugas harus memastikan hasil pemeriksaan memiliki tingkat kepastian yang memadai. Selain DNA, proses identifikasi juga mempertimbangkan data postmortem dan informasi lain yang dikumpulkan dari keluarga. Setelah identitas dipastikan, koordinasi dilakukan untuk memulangkan jenazah kepada keluarga. Jenazah selanjutnya dibawa dari Bengkulu menuju Banten untuk menjalani proses pemakaman.
Penemuan Surakman juga memberikan petunjuk mengenai kemungkinan pergerakan kapal maupun korban setelah hilang di kawasan Selat Sunda. Kondisi arus laut ketika operasi pencarian berlangsung diketahui bergerak dari perairan barat Selat Sunda menuju Samudra Hindia. Setelah memasuki Samudra Hindia, pergerakan arus dapat mengarah ke barat laut menuju kawasan Bengkulu. Kondisi tersebut dinilai dapat menjelaskan bagaimana jenazah terbawa hingga Pulau Enggano yang berjarak ratusan kilometer dari lokasi terakhir kapal terdeteksi. Faktor arus laut kini menjadi salah satu informasi penting dalam pemantauan terhadap kemungkinan keberadaan korban lainnya.
Arupadhatu I membawa delapan orang ketika berangkat dari kawasan Carita, Pandeglang, pada 7 September 2026 untuk menuju Gunung Anak Krakatau. Rombongan terdiri dari lima jurnalis serta tiga orang kru dan pendamping kapal. Setelah kapal tidak kembali sesuai jadwal dan komunikasi terputus, keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut. Operasi SAR dilakukan dengan menyisir kawasan Selat Sunda dan memperluas pencarian ke sejumlah wilayah perairan. Setelah Surakman teridentifikasi, masih terdapat tujuh orang dalam rombongan yang keberadaannya belum diketahui.
Operasi pencarian aktif sebelumnya telah berlangsung selama 10 hari sebelum dihentikan pada 17 September 2026 setelah tidak ditemukan petunjuk tambahan. Meski operasi lapangan dihentikan, pemantauan masih dilakukan melalui koordinasi dengan petugas SAR, masyarakat pesisir, dan nelayan di sejumlah wilayah. Koordinasi antara wilayah Banten, Lampung, dan Bengkulu juga terus dilakukan menyusul penemuan jenazah di Pulau Enggano. Hingga perkembangan terbaru, belum ditemukan keberadaan kapal Arupadhatu I maupun tujuh orang lainnya. Keluarga korban berharap penemuan Surakman dapat menjadi petunjuk baru untuk memperluas pemantauan.
Penemuan jenazah ABK di Bengkulu menjadi titik terang pertama yang terkonfirmasi dalam pencarian rombongan tersebut. Jarak penemuan yang cukup jauh menunjukkan bahwa pengaruh arus laut perlu diperhitungkan dalam menentukan kemungkinan pergerakan korban maupun bagian kapal. Informasi dari nelayan dan masyarakat di sepanjang pesisir Sumatra kini memiliki peranan penting dalam pemantauan lanjutan. Setiap temuan yang diduga berkaitan dengan Arupadhatu I akan diperiksa untuk memastikan keterkaitannya dengan insiden tersebut. Sementara itu, keluarga lima jurnalis dan dua anggota rombongan lainnya masih menantikan kepastian mengenai keberadaan mereka.
