BYD Siapkan Mobil dengan Baterai Solid-State pada 2027, Produksi Awal Masih Terbatas

Otomatif17 Dilihat

Jakarta, 14 September 2026 – Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, semakin dekat membawa teknologi baterai solid-state dari tahap penelitian menuju penggunaan pada kendaraan. Executive Vice President BYD Stella Li mengungkapkan perusahaan menargetkan memiliki satu model kendaraan yang menggunakan teknologi baterai tersebut pada 2027. Pernyataan terbaru itu memperkuat peta jalan pengembangan baterai solid-state BYD yang sebelumnya mengarah pada produksi dalam jumlah terbatas mulai tahun depan. Meski demikian, penggunaan pada 2027 belum berarti teknologi tersebut langsung tersedia secara luas pada seluruh kendaraan yang dijual kepada konsumen. Tahap awal lebih diarahkan sebagai demonstrasi dan produksi terbatas untuk membuktikan kemampuan teknologi dalam kondisi penggunaan sebenarnya. Produksi dalam skala besar diperkirakan baru menjadi sasaran menjelang akhir dekade setelah teknologi, biaya, dan proses manufakturnya semakin matang.

Baterai solid-state menjadi salah satu teknologi yang banyak dikembangkan industri otomotif karena memiliki karakter berbeda dibandingkan baterai lithium-ion konvensional. Perbedaan utamanya terdapat pada penggunaan elektrolit padat untuk menggantikan elektrolit cair yang umum ditemukan pada baterai kendaraan listrik saat ini. Perubahan tersebut berpotensi meningkatkan kepadatan energi sehingga kendaraan dapat membawa energi lebih besar tanpa harus meningkatkan ukuran baterai secara berlebihan. Teknologi ini juga memiliki potensi memberikan peningkatan dari sisi keselamatan karena penggunaan elektrolit padat dapat mengurangi sejumlah risiko yang berkaitan dengan material cair mudah terbakar. Selain itu, pengembang baterai solid-state mengejar kemampuan pengisian cepat dan umur penggunaan yang lebih panjang. Namun, mewujudkan seluruh keunggulan tersebut dalam produk yang dapat diproduksi massal dengan biaya kompetitif masih menjadi tantangan besar bagi industri.

BYD sendiri bukan pemain baru dalam penelitian teknologi tersebut. Perusahaan telah melakukan penelitian baterai solid-state sejak sekitar 2013 dan terus mengembangkan berbagai material serta rancangan sel selama lebih dari satu dekade. Pada 2023, perusahaan mencapai tahapan yang menunjukkan kemungkinan teknologi tersebut dikembangkan menuju produksi, kemudian melanjutkan pengujian terhadap sel dengan kapasitas berbeda. Fokus pengembangan BYD mengarah pada baterai all-solid-state berbasis elektrolit sulfida. Material tersebut dinilai memiliki konduktivitas ion yang baik dan berpotensi memberikan kombinasi kepadatan energi, kemampuan pengisian, serta stabilitas yang dibutuhkan kendaraan listrik. Pengembangan jangka panjang tersebut menjadi bagian dari strategi BYD mempertahankan posisinya dalam persaingan teknologi baterai global.

Rencana penggunaan pada kendaraan mulai 2027 diperkirakan berlangsung secara bertahap dan belum langsung menyasar produk dengan volume penjualan terbesar. Pada periode 2027 hingga 2029, BYD sebelumnya mengindikasikan produksi solid-state akan berada dalam fase demonstrasi dan jumlahnya masih terbatas. Kendaraan kelas atas diperkirakan menjadi kandidat awal karena biaya produksi teknologi baru masih jauh lebih tinggi dibandingkan baterai yang telah diproduksi secara massal. Pendekatan semacam ini memungkinkan perusahaan memperoleh data mengenai performa, ketahanan, keamanan, dan karakter baterai dalam penggunaan sehari-hari. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki desain sebelum kapasitas produksi diperbesar. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, adopsi dalam skala lebih luas dapat berlangsung menjelang atau setelah 2030.

Salah satu tantangan terbesar baterai solid-state adalah membawa performa yang diperoleh dalam laboratorium menuju produksi industri dengan tingkat konsistensi tinggi. Sebuah sel baterai harus mampu diproduksi dalam jumlah sangat besar dengan karakteristik yang hampir sama antara satu unit dan lainnya. Material elektrolit padat juga membutuhkan proses manufaktur berbeda dan pengendalian antarmuka antara elektroda dengan elektrolit yang sangat presisi. Persoalan lain berkaitan dengan ketahanan terhadap siklus pengisian dan pengosongan berulang selama bertahun-tahun. Setiap peningkatan performa juga harus dicapai tanpa membuat biaya produksi menjadi terlalu tinggi untuk kendaraan komersial. Karena itulah target 2027 lebih tepat dipandang sebagai langkah awal menuju komersialisasi daripada penggunaan massal secara langsung.

BYD pada saat bersamaan masih terus mengembangkan teknologi baterai konvensional yang menjadi tulang punggung kendaraan listriknya. Perusahaan telah membangun posisi kuat melalui Blade Battery yang menggunakan pendekatan lithium iron phosphate dan dikenal menitikberatkan aspek keamanan, umur penggunaan, serta efisiensi pengemasan. Pengembangan solid-state tidak berarti teknologi baterai yang digunakan saat ini akan segera ditinggalkan. Dalam beberapa tahun mendatang, berbagai jenis baterai kemungkinan tetap digunakan berdampingan berdasarkan harga, karakter kendaraan, kebutuhan jarak tempuh, dan segmen konsumen. Baterai dengan biaya produksi lebih rendah dapat tetap menjadi pilihan untuk kendaraan massal, sementara teknologi baru lebih dahulu diterapkan pada produk premium. Strategi tersebut memungkinkan produsen meningkatkan teknologi tanpa menyebabkan harga seluruh lini kendaraan melonjak.

Persaingan menuju baterai solid-state juga berlangsung semakin ketat karena sejumlah perusahaan otomotif dan produsen baterai global mengembangkan teknologi serupa. Industri melihat baterai sebagai salah satu komponen paling strategis dalam menentukan performa dan harga kendaraan listrik. Perusahaan yang mampu menghasilkan baterai dengan kepadatan energi tinggi, pengisian cepat, keamanan baik, dan biaya rendah akan memiliki keuntungan besar dalam persaingan pasar. Kondisi tersebut membuat investasi penelitian baterai terus meningkat meskipun tantangan teknisnya masih besar. BYD memiliki keuntungan karena perusahaan menguasai produksi kendaraan sekaligus memiliki kemampuan manufaktur baterai melalui ekosistem bisnisnya sendiri. Integrasi tersebut memungkinkan pengembangan sel dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan kendaraan sejak tahap awal.

Kepadatan energi menjadi salah satu aspek yang paling dinantikan dari teknologi solid-state. Apabila energi yang dapat disimpan dalam setiap kilogram baterai meningkat secara signifikan, produsen memiliki beberapa pilihan dalam merancang kendaraan. Kapasitas baterai dapat dipertahankan dengan bobot lebih rendah sehingga kendaraan menjadi lebih efisien, atau ukuran baterai tetap dipertahankan untuk mendapatkan jarak tempuh lebih jauh. Pengurangan bobot juga berpotensi memberikan manfaat terhadap performa, konsumsi energi, dan karakter pengendalian kendaraan. Namun, keuntungan tersebut tetap harus diseimbangkan dengan kemampuan baterai mempertahankan performa dalam berbagai temperatur dan kondisi penggunaan. Pengujian kendaraan mulai 2027 akan menjadi salah satu tahapan penting untuk membuktikan apakah manfaat teoritis tersebut dapat diterapkan secara konsisten dalam penggunaan nyata.

Masuknya BYD ke tahap penggunaan solid-state pada kendaraan juga dapat memberikan pengaruh terhadap rantai pasok industri baterai. Perubahan dari elektrolit cair menuju material padat membutuhkan bahan, peralatan produksi, dan proses manufaktur yang berbeda. Apabila teknologi berkembang menuju produksi massal, pemasok material dan perusahaan peralatan baterai harus menyesuaikan kapasitas serta teknologinya. Pada sisi lain, peningkatan produksi dalam jumlah besar berpotensi menurunkan biaya seiring bertambahnya skala manufaktur dan meningkatnya efisiensi. Proses tersebut kemungkinan membutuhkan waktu beberapa tahun sebelum biaya solid-state dapat mendekati teknologi baterai yang telah matang. Inilah salah satu alasan mengapa transisi diperkirakan berlangsung secara bertahap dan tidak langsung menggantikan baterai konvensional.

Target BYD menghadirkan kendaraan dengan baterai solid-state pada 2027 menjadi tonggak penting dalam persaingan teknologi kendaraan listrik, tetapi tahun tersebut masih menjadi tahap awal perjalanan menuju penggunaan massal. Pernyataan terbaru perusahaan menunjukkan setidaknya satu model ditargetkan menggunakan teknologi tersebut tahun depan, sementara produksi awal diperkirakan masih dalam jumlah terbatas. Setelah itu, periode hingga akhir dekade akan menjadi fase penting untuk menguji performa, memperbaiki proses manufaktur, meningkatkan kapasitas, dan menurunkan biaya. Keberhasilan solid-state pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan baterai dengan spesifikasi tinggi, tetapi juga kemampuan memproduksinya secara konsisten dengan harga yang dapat diterima pasar. BYD memiliki pengalaman panjang dalam teknologi baterai dan manufaktur kendaraan yang dapat menjadi modal dalam proses tersebut. Jika tahapan pengembangan berjalan sesuai rencana, solid-state berpotensi menjadi salah satu perubahan besar berikutnya dalam strategi kendaraan listrik BYD setelah keberhasilan perusahaan membangun skala produksi melalui teknologi baterai yang digunakan saat ini.