Jawa dan Bali Masih Jadi Pusat Pembinaan Pebasket Muda Indonesia

Nasional16 Dilihat

Jakarta, 20 September 2026 – Pulau Jawa dan Bali masih menjadi wilayah yang dominan dalam pertumbuhan atlet bola basket usia dini di Indonesia. Jakarta, Surabaya, Bandung, serta sejumlah daerah lain di Jawa hingga Bali dinilai konsisten melahirkan pemain muda melalui pembinaan yang semakin terstruktur. Basketball Director DBL Academy Dimaz Muharri mengatakan potensi dari daerah lain sebenarnya juga mulai menunjukkan perkembangan. Namun, ekosistem pembinaan di Jawa dan Bali relatif lebih berkembang karena ditunjang akademi, klub, sekolah, pelatih, serta kompetisi kelompok usia. Kondisi tersebut membuat dua wilayah itu masih menjadi salah satu pusat regenerasi pebasket nasional.

Pembinaan pemain usia dini tidak hanya diarahkan untuk mengejar kemenangan dalam pertandingan. Dimaz menilai anak-anak perlu mendapatkan kesempatan menikmati permainan sekaligus membangun kemampuan dasar sebelum menghadapi kompetisi dengan tingkat tekanan lebih tinggi. Pendekatan tersebut menjadi penting karena pembebanan target kemenangan terlalu dini dapat menghambat proses perkembangan pemain. Latihan kemudian diarahkan pada kemampuan individual yang dapat menjadi fondasi ketika pemain bergabung dengan sebuah tim. Teknik dasar seperti passing, dribble, shooting, dan pergerakan tubuh mendapatkan perhatian besar dalam tahap awal pembinaan.

Pendekatan mini basketball diterapkan untuk kelompok usia lima hingga 12 tahun sebagai salah satu metode memperkenalkan olahraga tersebut. Dalam latihan maupun pertandingan kelompok tersebut, skor tidak ditampilkan agar anak-anak tidak terlalu dibebani hasil menang atau kalah. Fokus utama diarahkan pada proses belajar, keberanian mengambil keputusan, koordinasi tubuh, serta pemahaman terhadap permainan. Kemampuan dasar seperti berlari, melompat, dan mengendalikan gerakan juga menjadi bagian penting dari latihan. Fondasi fisik dan teknik tersebut dibutuhkan sebelum pemain mendapatkan materi permainan yang lebih kompleks ketika memasuki kelompok usia berikutnya.

DBL Academy saat ini memiliki empat cabang yang terdiri atas dua lokasi di Surabaya serta masing-masing satu di Yogyakarta dan Jakarta. Kurikulum yang diterapkan tidak hanya membahas keterampilan teknis bola basket, tetapi juga pembentukan karakter serta edukasi mengenai nutrisi. Dimaz bertanggung jawab menyusun kurikulum pembinaan sekaligus memberikan arahan kepada para pelatih mengenai metode yang disesuaikan dengan karakter peserta didik. Sejumlah alumni akademi tersebut kemudian mampu berprestasi di tingkat SMP dan SMA hingga menembus tim nasional. Nama seperti Inez Angelina Welly dan Praisey Blessed termasuk di antara pemain yang berkembang melalui jalur pembinaan tersebut.

Perkembangan bola basket nasional juga didukung semakin luasnya basis pemain dan klub yang tercatat secara resmi. Data keanggotaan digital Perbasi yang telah diverifikasi mencatat 1.424 klub dan 30.610 pemain. Selain itu, terdapat 2.883 pelatih, 511 wasit, serta kepengurusan Perbasi di 351 kota dan kabupaten yang masuk dalam basis data. Pendataan tersebut menjadi instrumen untuk memantau aktivitas kompetisi sekaligus perkembangan organisasi bola basket di berbagai daerah. Basis data yang semakin rapi diharapkan membantu penyusunan program pembinaan berdasarkan kondisi masing-masing wilayah.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Perbasi Ratana Arya menilai kompetisi tetap memiliki peran penting setelah pemain memperoleh pembinaan dasar. Kejuaraan kelompok usia memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk mengembangkan teknik sekaligus mendapatkan pengalaman menghadapi situasi pertandingan. Kompetisi yang diselenggarakan federasi maupun pihak swasta kemudian menjadi bagian dari jalur pengembangan tersebut. Berbagai turnamen pelajar juga terus berkembang dengan melibatkan sekolah dan atlet dari berbagai wilayah Indonesia. Ekosistem kompetisi yang berjenjang diharapkan dapat menjembatani proses dari pembinaan dasar menuju level permainan yang lebih tinggi.

Tantangan berikutnya adalah memperluas pusat pembinaan agar pertumbuhan pebasket muda tidak terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Potensi pemain dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua membutuhkan akses terhadap pelatih, fasilitas, akademi dan kompetisi yang berkelanjutan. Perluasan turnamen pelajar mulai terlihat, salah satunya melalui kompetisi yang menjangkau Surabaya, Semarang, Banjarmasin, Tangerang dan Jakarta dengan lebih dari 500 sekolah serta sekitar 8.000 peserta pada musim 2026/2027. Semakin luasnya jalur pembinaan dan kompetisi dapat memberikan kesempatan kepada bakat dari berbagai daerah untuk berkembang. Dengan ekosistem yang lebih merata, regenerasi atlet bola basket nasional diharapkan tidak lagi bertumpu pada beberapa wilayah saja.