Jakarta, 27 Agustus 2026 – Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menyambut positif peluncuran program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang digagas pemerintah. Program tersebut dinilai dapat menjadi momentum penting untuk mempercepat transformasi energi sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Program PLTS 100 GWp resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, pada 25 Agustus 2026. Tahap awal program mencakup 14 PLTS di enam provinsi dengan total kapasitas sekitar 5,3 GWp. Pemerintah menargetkan keseluruhan kapasitas 100 GWp dapat dibangun dalam waktu tiga tahun.
Ketua Umum METI Norman Ginting menilai program tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai proyek pembangunan pembangkit listrik. Menurutnya, PLTS 100 GWp perlu menjadi bagian dari transformasi sistem energi sekaligus momentum untuk membangun industri energi surya nasional dari sektor hulu hingga hilir.
METI berharap program tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas, mulai dari menghasilkan listrik bersih, mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pemerintah sendiri memperkirakan program PLTS 100 GWp membutuhkan investasi sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.140 triliun. Selain itu, proyek tersebut diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja serta memberikan efisiensi terhadap subsidi hingga Rp73,9 triliun per tahun.
Menurut METI, besarnya target tersebut membutuhkan fondasi yang kuat. Pemerintah perlu memastikan adanya kepastian regulasi, kesiapan jaringan listrik, dukungan sistem penyimpanan energi, skema pembiayaan yang menarik, serta penguatan industri panel surya dan baterai di dalam negeri.
Hal tersebut menjadi penting karena pembangunan PLTS dalam skala besar membutuhkan sistem kelistrikan yang mampu menampung energi yang dihasilkan. Pengembangan Battery Energy Storage System (BESS) juga diperlukan untuk membantu menjaga keandalan pasokan listrik dari pembangkit energi surya.
METI juga mendorong agar pembangunan PLTS dikaitkan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. Contoh penerapan konsep tersebut terlihat di Pulau Sembur, Kepulauan Riau, yang memiliki PLTS 1 MWp dengan BESS 1 MWh. Energi yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung fasilitas seperti ice maker dan cold storage bagi masyarakat nelayan.
Pemanfaatan energi surya untuk kegiatan produktif dinilai dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar. Listrik yang tersedia dapat digunakan untuk mengembangkan usaha masyarakat, meningkatkan produktivitas, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar diesel.
Model seperti Pulau Sembur dinilai dapat dikembangkan di berbagai wilayah lain, terutama pulau-pulau kecil, desa nelayan, serta kawasan yang selama ini masih mengandalkan pembangkit diesel. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya terjadi di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga dapat dirasakan masyarakat di daerah.
Selain manfaat bagi masyarakat, program PLTS 100 GWp juga berpotensi membuka peluang pengembangan industri nasional. METI mendorong agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pemasangan panel surya, tetapi juga mengembangkan industri komponen, teknologi penyimpanan energi, sistem jaringan pintar, serta sumber daya manusia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebut Indonesia telah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik di dalam negeri. Menurutnya, pengembangan PLTS 100 GWp dapat menjadi bagian dari upaya membuat Indonesia lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya.
Pemerintah juga telah menyiapkan tahap awal sebesar 17 GW sebagai bagian dari percepatan program. Pada tahap tersebut, sistem BESS sekitar 33 GW turut dipersiapkan untuk mendukung pengembangan pembangkit tenaga surya.
Bagi METI, keberhasilan program tidak cukup diukur dari seberapa banyak kapasitas PLTS yang berhasil dibangun. Dampak terhadap industri nasional, lapangan kerja, pengurangan emisi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat juga harus menjadi bagian dari indikator keberhasilan.
Dengan target 100 GWp dalam tiga tahun, program ini menjadi salah satu proyek energi terbesar yang tengah didorong pemerintah. Jika dilaksanakan dengan perencanaan yang matang, PLTS 100 GWp dinilai berpotensi mempercepat peralihan Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.









