Dari Natuna ke Rusia, Perjalanan Rendi Berakhir Tragis di Tengah Perang

Liga Indonesia15 Dilihat

Natuna, 30 September 2026 – Perjalanan Rendi Apriyanto, pemuda berusia 30 tahun asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, berakhir dengan kabar duka setelah keluarga menerima informasi bahwa ia meninggal dunia di tengah konflik Rusia-Ukraina. Keluarga menyebut Rendi menjadi korban serangan drone pada 20 September 2026 setelah sebelumnya berada di Rusia selama beberapa bulan. Informasi kematiannya pertama kali diperoleh dari seorang rekan Rendi yang berada di Rusia dan selamat dari peristiwa tersebut. Namun, hingga akhir September, status serta lokasi jenazah Rendi masih membutuhkan konfirmasi resmi dari otoritas terkait. Keluarga kini berharap pemerintah dapat membantu memastikan kabar tersebut sekaligus mengupayakan pemulangan jenazah ke Natuna.

Sebelum berada di Rusia, perjalanan kerja Rendi dimulai jauh dari medan konflik. Ia pernah bekerja pada sebuah perusahaan telekomunikasi di Natuna sebelum dipindahkan ke Batam pada 2022. Setelah mengundurkan diri, Rendi sempat pergi ke Pulau Jawa dan kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga instalasi listrik di Filipina. Sejak 2022, menurut keluarga, Rendi tidak pernah kembali ke kampung halamannya di Natuna. Pekerjaan di luar daerah dan luar negeri itu kemudian menjadi awal perjalanan yang akhirnya membawa Rendi ke Rusia.

Pada awal Februari 2026, keluarga mendapatkan kabar mengejutkan ketika Rendi menghubungi mereka dan mengatakan dirinya sudah berada di Rusia bersama sejumlah warga Indonesia lainnya. Kepada orang tuanya, Rendi menyampaikan bahwa pekerjaan yang dijalankannya berkaitan dengan logistik dan bukan bertugas langsung sebagai pasukan tempur. Keluarga mengaku khawatir karena Rusia masih terlibat konflik bersenjata dengan Ukraina. Rendi disebut berusaha meyakinkan keluarganya bahwa dirinya akan berada dalam kondisi aman. Belakangan, keluarga mendapatkan gambaran bahwa pekerjaan tersebut berkaitan dengan aktivitas militer Rusia.

Keluarga menyebut Rendi menjalani kontrak kerja selama enam bulan dan ketika kabar duka datang ia sedang memasuki periode kontrak berikutnya. Rendi bahkan disebut memiliki rencana kembali ke Indonesia pada awal April 2027. Komunikasi terakhir dengan keluarga berlangsung pada 18 September 2026 ketika Rendi mengabarkan dirinya akan dikirim ke wilayah garis depan. Ia juga mengatakan kemungkinan tidak dapat dihubungi untuk sementara waktu selama menjalankan tugas tersebut. Beberapa hari kemudian, keluarga menerima kabar dari rekannya bahwa Rendi menjadi salah satu korban serangan drone.

Informasi yang diterima keluarga menyebut Rendi berada dalam rombongan yang terkena serangan pesawat nirawak di tengah situasi konflik. Seorang rekannya dilaporkan selamat tetapi mengalami luka dan memperoleh perawatan medis di Rusia. Sementara itu, Rendi dikabarkan meninggal bersama sejumlah orang lain yang berada di lokasi. Meski keluarga telah menerima informasi mengenai kematiannya, detail keterlibatan Rendi, lokasi kejadian, serta status jenazahnya masih belum sepenuhnya terverifikasi oleh otoritas Indonesia. Kondisi tersebut membuat keluarga masih menunggu kepastian lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Persoalan berikutnya yang dihadapi keluarga adalah kemungkinan membawa jenazah Rendi kembali ke kampung halamannya. Upaya memperoleh informasi dilakukan dengan menghubungi rekan Rendi yang masih berada di Rusia. Namun, keluarga mendapat penjelasan bahwa proses evakuasi sulit dilakukan karena lokasi masih berada dalam situasi konflik dan terdapat korban yang belum berhasil dievakuasi. Pemerintah Kabupaten Natuna sebelumnya juga masih melakukan pengecekan terhadap informasi mengenai Rendi. Keluarga berharap pemerintah Indonesia dan pihak terkait dapat membantu memperoleh kepastian serta membuka kemungkinan pemulangan jenazah apabila kondisi memungkinkan.

Kisah Rendi kini menyisakan rangkaian pertanyaan mengenai bagaimana seorang pemuda asal Natuna yang awalnya bekerja di sektor telekomunikasi dan instalasi listrik akhirnya berada di lingkungan konflik bersenjata Rusia-Ukraina. Keterangan yang tersedia sejauh ini sebagian besar berasal dari keluarga dan rekan Rendi, sehingga informasi mengenai proses perekrutan serta status pekerjaannya masih membutuhkan verifikasi resmi. Bagi keluarganya, prioritas saat ini bukan lagi mencari jawaban mengenai alasan Rendi berada di Rusia, melainkan memastikan kondisi dan keberadaan jenazahnya. Mereka berharap Rendi dapat dipulangkan dan dimakamkan di tanah kelahirannya setelah bertahun-tahun merantau. Perjalanan dari Natuna, Batam, Filipina hingga Rusia itu kini berakhir dengan penantian keluarga terhadap kepastian pemulangan Rendi ke kampung halaman.