Pramono Targetkan Groundbreaking MRT Timur-Barat Dimulai Tahun Ini

Nasional22 Dilihat

Jakarta, 17 September 2026 – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek MRT Jakarta Lintas Timur-Barat dapat dilakukan pada 2026. Pramono berharap dimulainya pembangunan koridor baru tersebut nantinya dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto. Rencana itu menjadi bagian dari pengembangan jaringan transportasi massal Jakarta setelah pemerintah memperluas layanan berbasis rel di sejumlah wilayah ibu kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengenai persiapan proyek tersebut. Salah satu pembahasan yang dilakukan berkaitan dengan pembagian porsi pembiayaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Skema tersebut pada prinsipnya akan mengacu pada pola yang telah digunakan dalam pembangunan MRT koridor Utara-Selatan.

Rencana MRT Lintas Timur-Barat memiliki cakupan yang lebih luas karena tidak hanya melayani perjalanan di dalam wilayah Jakarta. Dalam rancangan jangka panjang, koridor tersebut akan menghubungkan Banten di sisi barat, melintasi DKI Jakarta, hingga wilayah Jawa Barat di sisi timur. Kehadiran jaringan lintas provinsi tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas kawasan metropolitan Jakarta dan daerah penyangganya. Mobilitas harian masyarakat dari Tangerang dan Bekasi menuju Jakarta selama ini menjadi salah satu faktor tingginya kepadatan lalu lintas di sejumlah koridor utama. Transportasi massal berbasis rel dipandang sebagai salah satu instrumen untuk menyediakan alternatif perjalanan berkapasitas besar. Pengembangan tersebut juga akan melengkapi layanan MRT yang sudah tersedia pada koridor Utara-Selatan.

Pada Fase 1 Tahap 1, MRT Timur-Barat direncanakan membentang dari Tomang di Jakarta Barat hingga Medan Satria di Bekasi. Panjang koridor awal tersebut mencapai sekitar 25 kilometer dan akan menjadi bagian penting dari jaringan East-West Line secara keseluruhan. Pembangunannya juga akan mencakup kawasan pusat Jakarta sehingga memungkinkan integrasi dengan moda transportasi lain. Stasiun Thamrin diproyeksikan menjadi salah satu titik penting karena akan mempertemukan jalur MRT Utara-Selatan dengan koridor Timur-Barat. Dari kawasan tersebut, jalur menuju barat direncanakan bergerak ke arah Roxy, Tomang, dan Kembangan. Sementara jalur ke arah timur akan menuju sejumlah kawasan seperti Cideng, Galur, hingga Medan Satria.

Dalam pengembangan jangka panjang, ujung barat MRT Timur-Barat direncanakan mencapai Balaraja di Kabupaten Tangerang. Sementara pada sisi timur, jaringan tersebut dirancang terus berkembang hingga Cikarang. Keseluruhan lintasan dalam rencana pengembangan akan memiliki puluhan stasiun serta fasilitas depo untuk mendukung kegiatan operasional. Pengembangan hingga wilayah penyangga membuat proyek tersebut membutuhkan koordinasi lintas pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Perencanaan tata ruang di sekitar jalur juga menjadi penting agar keberadaan stasiun dapat diintegrasikan dengan kawasan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan MRT tidak hanya menjadi proyek transportasi, tetapi juga bagian dari pengembangan kawasan metropolitan.

Pramono mengatakan pembahasan mengenai pembagian pembiayaan proyek telah dilakukan bersama pemerintah pusat. Pembagian tersebut diperlukan karena pembangunan MRT membutuhkan investasi besar dan melibatkan jaringan yang manfaatnya melampaui wilayah administratif Jakarta. Pengalaman pembangunan MRT Utara-Selatan menjadi salah satu acuan dalam menentukan pola kerja sama. Pemerintah daerah dan pusat memiliki peran masing-masing dalam memastikan proyek dapat berjalan secara berkelanjutan. Selain biaya konstruksi, pengembangan jaringan transportasi massal juga membutuhkan perencanaan terhadap operasional dan pemeliharaan setelah layanan dibuka. Kepastian pembiayaan menjadi salah satu faktor penting agar pembangunan dapat berlangsung sesuai tahapan yang telah disiapkan.

Pengembangan MRT Timur-Barat juga berkaitan dengan strategi memperluas cakupan angkutan umum di kawasan Jakarta. Selama ini jaringan MRT yang telah beroperasi melayani perjalanan pada koridor selatan menuju pusat kota. Kehadiran koridor baru akan memberikan pilihan perjalanan bagi masyarakat yang bergerak dari barat menuju timur maupun sebaliknya. Jalur tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi pada koridor yang selama ini memiliki volume lalu lintas tinggi. Integrasi dengan TransJakarta, KRL, LRT, dan moda lainnya menjadi faktor penting agar manfaat jaringan dapat dirasakan secara lebih luas. Penumpang diharapkan dapat berpindah antarmoda dengan waktu dan akses yang lebih efisien.

Rencana pembangunan juga berjalan bersamaan dengan upaya memperkuat integrasi transportasi metropolitan antara Jakarta dan daerah sekitarnya. Pada Februari 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Banten menandatangani nota kesepahaman terkait studi potensi kontribusi pembangunan MRT Lintas Timur-Barat Fase 2 Kembangan-Balaraja. Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa pengembangan MRT diarahkan melewati batas administratif Jakarta. Pertumbuhan kawasan hunian dan kegiatan ekonomi di Tangerang membuat kebutuhan konektivitas dengan Jakarta semakin besar. Pemerintah menilai penyelesaian persoalan transportasi metropolitan membutuhkan kolaborasi antardaerah. Kerja sama juga diperlukan agar pengembangan jalur dapat memberikan manfaat yang seimbang bagi wilayah yang dilewati.

Pembangunan koridor Timur-Barat diharapkan turut mendorong pengembangan kawasan di sekitar stasiun. Kehadiran transportasi massal berkapasitas tinggi dapat menjadi dasar pengembangan kawasan berorientasi transit yang menggabungkan hunian, pusat usaha, fasilitas publik, dan jaringan pejalan kaki. Konsep tersebut memungkinkan masyarakat melakukan lebih banyak aktivitas tanpa bergantung sepenuhnya pada kendaraan pribadi. Di sisi lain, peningkatan aktivitas di sekitar stasiun dapat menciptakan pusat ekonomi baru dan meningkatkan akses masyarakat terhadap lapangan kerja. Perencanaan kawasan harus dilakukan sejak tahap awal agar pembangunan tidak hanya menghasilkan jalur kereta. Integrasi tata ruang dan transportasi menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem mobilitas perkotaan yang lebih efisien.

Proyek MRT Timur-Barat telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Status tersebut menunjukkan posisi proyek dalam agenda pembangunan infrastruktur dan transportasi nasional. Persiapan konstruksi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknis, pendanaan, dan koordinasi antarpemerintah. Sebelumnya, pembangunan awal pada 2026 direncanakan mencakup pekerjaan yang berkaitan dengan kawasan Thamrin menuju arah Senen. Dalam rencana yang disampaikan PT MRT Jakarta pada Februari 2026, koridor Timur-Barat ditargetkan beroperasi pada 2031 dengan proyeksi sekitar 284 ribu penumpang per hari. Target tersebut masih bergantung pada perkembangan pembangunan dan kesiapan berbagai tahapan proyek.

Target groundbreaking pada tahun ini menjadi salah satu tahapan penting dalam perluasan jaringan MRT Jakarta. Pemerintah masih harus memastikan pembagian pembiayaan, kesiapan konstruksi, koordinasi lintas wilayah, serta integrasi dengan jaringan transportasi yang telah beroperasi. Koridor Timur-Barat diharapkan memberikan alternatif perjalanan bagi masyarakat dari kawasan Banten, Jakarta, hingga Bekasi dan pada akhirnya Cikarang. Kehadirannya juga berpotensi memperkuat keterhubungan pusat-pusat kegiatan ekonomi di kawasan metropolitan. Pengembangan MRT secara bertahap menjadi bagian dari upaya meningkatkan penggunaan transportasi publik sekaligus mengurangi tekanan lalu lintas jalan. Realisasi groundbreaking pada 2026 akan menjadi awal dari tahapan pembangunan panjang sebelum jaringan tersebut dapat digunakan masyarakat secara penuh.