Jakarta, 29 Agustus 2026 – Gus Arwani Thomafi mengingatkan pentingnya menjadikan lima nilai utama sebagai pedoman dalam menjalankan khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Pesan tersebut disampaikan sebagai penekanan bahwa aktivitas berorganisasi di NU tidak semata-mata berkaitan dengan jabatan, program kerja, maupun posisi struktural, tetapi juga menyangkut komitmen untuk menjaga nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan organisasi. Menurutnya, setiap kader dan pengurus perlu memiliki landasan yang kuat agar pengabdian yang dilakukan tetap berada dalam koridor yang sesuai dengan tradisi dan tujuan NU. Lima nilai tersebut diharapkan menjadi pegangan dalam menghadapi berbagai dinamika organisasi yang terus berkembang. Penguatan nilai juga dinilai penting agar semangat berkhidmah tetap menjadi orientasi utama dalam setiap aktivitas warga NU.
Dalam kehidupan organisasi, khidmah memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar menjalankan tugas administratif. Pengabdian menuntut adanya kesediaan untuk bekerja bagi kepentingan yang lebih besar tanpa menjadikan kedudukan sebagai tujuan utama. Karena itu, nilai yang menjadi pedoman perlu dipahami bukan hanya secara konseptual, tetapi juga diterapkan dalam perilaku sehari-hari. Para pengurus dan kader diharapkan mampu menjaga sikap, mengambil keputusan secara bijaksana, serta menempatkan kepentingan organisasi dan masyarakat secara proporsional. Dengan cara tersebut, aktivitas di lingkungan NU dapat tetap mencerminkan semangat pelayanan dan pengabdian yang menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi.
Pesan mengenai lima nilai tersebut juga relevan dengan tantangan yang dihadapi NU di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. Perkembangan teknologi informasi membuat berbagai informasi, pandangan, dan perdebatan dapat menyebar dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membutuhkan kader yang tidak hanya memiliki kemampuan organisasi, tetapi juga memiliki keteguhan nilai ketika menghadapi perbedaan pandangan. Sikap yang matang diperlukan agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik yang mengganggu persatuan. Dalam konteks tersebut, pedoman nilai menjadi instrumen penting untuk menjaga agar setiap langkah organisasi tetap dilandasi prinsip yang kuat dan tidak mudah terbawa dinamika sesaat.
Khidmah juga berkaitan dengan kemampuan menempatkan kepentingan umat dan masyarakat sebagai bagian dari orientasi perjuangan organisasi. NU selama ini berkembang melalui kontribusi berbagai lapisan masyarakat, mulai dari ulama, kiai, santri, akademisi, hingga para kader yang bergerak dalam berbagai bidang. Keragaman tersebut merupakan kekuatan, tetapi sekaligus membutuhkan kemampuan untuk membangun komunikasi dan kerja sama yang baik. Setiap individu yang terlibat dalam organisasi perlu memahami bahwa perbedaan latar belakang tidak seharusnya menghilangkan tujuan bersama. Semangat pengabdian dapat menjadi titik temu yang memungkinkan berbagai unsur tersebut bekerja secara konstruktif dalam menjalankan amanah organisasi.
Penerapan nilai dalam berkhidmah juga menuntut konsistensi antara ucapan dan tindakan. Seorang kader atau pengurus tidak cukup hanya memahami prinsip organisasi secara teoritis apabila nilai tersebut tidak tercermin dalam cara menjalankan amanah. Integritas menjadi bagian penting karena kepercayaan anggota dan masyarakat sangat dipengaruhi oleh perilaku para pengurusnya. Tanggung jawab, kedisiplinan, serta kesediaan menerima masukan menjadi aspek yang dapat memperkuat kualitas pengabdian. Dengan demikian, lima nilai yang ditekankan Gus Arwani Thomafi diharapkan tidak berhenti sebagai pesan moral, tetapi dapat menjadi pedoman praktis dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab di lingkungan NU.
Di sisi lain, penguatan nilai juga dibutuhkan untuk menjaga kesinambungan kaderisasi di tubuh NU. Generasi muda yang masuk ke dalam organisasi perlu memperoleh pemahaman mengenai tradisi, prinsip, dan orientasi khidmah sejak awal. Kaderisasi tidak hanya bertujuan menyiapkan orang untuk menduduki posisi tertentu, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu meneruskan nilai organisasi dalam berbagai situasi. Proses tersebut menjadi semakin penting ketika NU menghadapi perubahan karakter masyarakat dan perkembangan persoalan sosial yang semakin kompleks. Penguatan nilai dapat membantu kader memahami bahwa keberadaan mereka dalam organisasi memiliki tanggung jawab sosial yang lebih luas daripada kepentingan pribadi.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan pengabdian sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi organisasi. NU memiliki sejarah panjang dalam mendampingi masyarakat melalui berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Perjalanan tersebut tidak terlepas dari kontribusi para pengurus dan kader yang menjalankan tugas dengan semangat pengabdian. Karena itu, nilai-nilai yang menjadi pedoman perlu terus diwariskan agar perubahan zaman tidak menghilangkan karakter dasar organisasi. Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan baru harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan prinsip yang menjadi identitas NU.
Pada akhirnya, ajakan Gus Arwani Thomafi untuk memedomani lima nilai dalam berkhidmah menegaskan pentingnya membangun organisasi melalui kualitas pribadi para kader dan pengurusnya. Pengabdian yang kuat membutuhkan landasan nilai, integritas, serta kesediaan menempatkan amanah organisasi di atas kepentingan individual. Dalam menghadapi perubahan sosial dan tantangan organisasi yang semakin beragam, prinsip tersebut dapat menjadi pegangan agar setiap langkah tetap terarah. Penguatan nilai juga diharapkan mampu memperkokoh solidaritas dan kesinambungan kaderisasi di lingkungan NU. Dengan menjadikan nilai sebagai dasar dalam menjalankan amanah, semangat khidmah diharapkan terus tumbuh dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi organisasi maupun masyarakat secara lebih luas.





